Teman, yang Datang dan Pergi

Akhir pekan yang lalu salah seorang kawanku, L, datang ke rumah. L ini hanya salah satu dari sedikit teman dari tempat kerjaku dulu yang masih bisa kuajak bicara. Sedikit teman? Ya, memang, hanya sedikit yang sampai sekarang masih klik di hatiku. Bukannya mau membeda-bedakan teman, tetapi wajar bukan jika ada teman yang kita merasa cocok dan tidak? Sebenarnya dengan teman-teman yang dulu juga bisa dibilang tidak ada masalah. Tapi kalau mau jujur, aku merasa tidak semua bisa kuajak bicara secara dekat. Walaupun dengan L tidak dekat-dekat banget, tetapi dibanding teman-teman dari tempat kerjaku dahulu, dia bisa dibilang yang lumayan dekat.

Kadang aku tidak tahu kenapa ya bisa begitu. Dan sebenarnya aku tidak terlalu suka juga dengan hal ini. Maksudnya, bukan berarti aku tidak suka masih bisa mengobrol dengan L. Bukan, bukan begitu. Tetapi aku justru bertanya-tanya, kenapa dengan teman-teman yang lain tidak bisa seperti itu.

Misalnya dengan T atau M. Dulu seingatku, aku masih bisa ngobrol panjang lebar dengan T. Tapi belakangan tidak. Waktu awal-awal tinggal di Jakarta, aku masih suka menelepon T, tetapi kemudian hpnya rusak atau bagaimana aku kurang paham, dan akhirnya aku sulit meneleponnya. Akhirnya kami jarang berkontak. Pernah dulu aku berusaha telepon, tetapi tidak diangkat. Terakhir aku SMS, dia tidak menjawab. Entah apa SMSku tidak sampai atau bagaimana. Tapi kalau di FB kami masih suka saling berkontak, walaupun jarang sekali. Kadang aku bertanya-tanya, apakah T tidak suka jika aku lama-lama meneleponnya? (Memang aku mudah sekali berpikir bahwa jika dia tidak mengangkat teleponku, berarti dia memang tidak mau kuganggu.) Ah, aku tak mau berpikir sejauh itu. Biarlah dia sendiri yang bisa menjawabnya. Aku tak perlu menebak-nebak dan memperkeruh pikiranku sendiri. Lebih baik aku tetap menjaga pertemanan dengannya.

Kalau dengan M, menurut perasaanku, kami lebih jarang lagi berkontak. Bahkan aku kadang agak asing dengannya. Padahal dia dulu duduk sebelahan denganku. Dulu sih rasanya suka mengobrol juga waktu di kantor. Tapi aku ingat, dia dulu menceritakan relasinya dengan pacarnya bukan denganku, tetapi dengan T (dan dengan L?). Aku sih tak masalah. Setiap orang berhak memilih tempat untuk berbagi cerita bukan? Kadang kulihat dia online di YM, tapi aku merasa enggan menghubunginya. Dan dia juga tak pernah menghubungiku terlebih dahulu. Seakan-akan seperti ada tirai yang enggan kusibakkan. Entah kenapa bisa begini. Mungkin bebannya ada di pihakku saja.

Memang, kalau aku bertemu dengan L, kami kadang masih membicarakan tempat kerja kami yang dulu. Dan memang itu salah satu “materi penyambung” yang membuat kami tetap bisa bicara. Tapi tentu bukan satu-satunya ya. L masuk ke tempat kerjaku dulu cuma selisih satu tahun denganku. Jadi, lamanya kami berada di sana, kurang lebih hampir sama. Dan ada beberapa peristiwa penting yang kami lalui bersama di sana.

Bertemu teman-teman lama, baik itu kawan dari tempat kerja yang lama maupun teman sekolah, biasanya yang dibicarakan adalah kenangan. Kenangan saat satu sekolah dulu, saat di tempat kerja yang lama, tentang guru X, tentang pelajaran Y, tentang konflik dengan atasan, tentang masalah atau kejadian lucu yang sempat muncul. Tanpa ada itu, tidak akan timbul percakapan. Tak ada benang merah yang menghubungkan.

Hubunganku dengan T atau M barangkali agak luntur karena kami seakan-akan menolak membicarakan masa lalu di tempat kerja kami dulu. Setidaknya itu yang kurasakan/menurutku. Misalnya terakhir waktu aku mencoba bertanya kepada M kenapa ada–sebut saja–majalah baru yang muncul, yang sangat mirip dengan majalah yang dikeluarkan oleh tempat kerjaku dulu, dia menjawab, dia tak mau memikirkan hal itu. Hmm, ya, barangkali dia terakhir-terakhir sempat merasakan ada ganjalan-ganjalan di (bekas) kantor kami. Tapi aku tak tahu sih karena dia tak pernah cerita. Dan rasanya itu mungkin saja terjadi karena aku melihat ada banyak sekali perubahan di sana. Yang namanya perubahan, belum tentu menyenangkan semua pihak bukan? M sekarang sudah resign dan dia memulai aktivitas yang sama sekali berbeda. Aku sih ikut senang. Toh sebenarnya kami tak ada masalah. Maksudnya, tak pernah ada pertengkaran. Tak pernah ada perbedaan tajam yang membuat kami berselisih paham.

Mungkin (lagi-lagi) masalahnya ada di aku. Aku memandang ada perubahan. Dulu, waktu aku keluar dari tempat kerja dan pindah ke Jakarta, aku masih berharap bisa terus berkontak dengan teman-teman. Aku masih sesekali berharap jika mereka ke Jakarta, aku diberi kabar. Mungkin bisa bertemu barang semenit atau dua menit. Tetapi ternyata tidak. Aku awalnya yang minta supaya dikontak, dan mereka menjawab iya, tetapi kenyataannya, mereka tidak mengontakku. Tidak pernah ada ajakan untuk bertemu dan mengobrol santai. Pernah sih sekali, tetapi itu agak formal rasanya. Jadi ceritanya, mereka ke Jakarta dan menemui para outsourcer. Masing-masing diberi bingkisan. Menurutku, ini berbeda jika mereka mencuri waktu untuk bertemu dan tanpa agenda apa pun. Tak usah ada bingkisan. Tak perlu ditraktir makan. Cukuplah dengan bicara dan menyapa. Jujur saja, aku merasa sedih menyaksikan perubahan itu. Aku seperti tiba-tiba diletakkan di lingkaran terluar, padahal dulu kami toh juga sering bersama-sama. Satu ruangan, duduk bersebelahan, mengobrol ngalor ngidul. Tetapi semua itu menguap begitu saja setelah aku mengundurkan diri dari tempat kerja. Ya, mungkin mereka sibuk sekali saat berada di Jakarta. Tetapi yah, sebenarnya jarak kantor cabang tempat mereka menginap dan rumahku cukup dekat. Aku masih mau menyempatkan diri datang ke sana pagi-pagi jika mereka mau. Tetapi ya gitu, mereka tidak mengontak.

Satu hal lagi pelajaran yang kudapat setelah aku keluar dari tempat kerjaku adalah pentingnya menjaga relasi dengan para outsourcer. Dulu aku sangat jarang berkomunikasi dengan para outsourcer ini. Aku berkomunikasi hanya kalau mau memberi pekerjaan. Tapi rasanya sekarang aku berpikir, ada baiknya jika pihak pemberi kerja lebih sering menyapa para outsourcer ini. Tak perlu menunggu momen, misalnya memberikan bingkisan atau ucapan waktu hari raya. Namun, jika di waktu-waktu biasa mereka berkomunikasi, kurasa akan timbul kerja sama yang lebih baik lagi. Ini memang agak sulit mengingat komunikasi biasanya terjadi pada saat ada kepentingan. Kalau sedang tidak ada pekerjaan, apa yang mau dikomunikasikan? Tentu saja bukan melulu soal pekerjaan, hal remeh-temeh pun kurasa bisa dibicarakan. Intinya, sapalah. Para outsourcer adalah aset. Jika hubungan dengan pemberi kerja baik, maka mereka bisa memberikan kontribusi positif. Misalnya, saat bekerja, mereka bisa memberikan hasil terbaik karena mengingat relasi baik di antara mereka. Kurasa masih banyak kontribusi positif yang bisa diberikan jika

Hidup ini terus berjalan. Dan seiring berjalannya waktu, kita mengalami banyak hal, hidup kita pun terus berjalan. Dan kita tak bisa selalu menyatukan benang-benang yang dulu tersambung dengan erat. Saat kita beranjak, kita menuju ke arah yang berbeda dari teman-teman kita sebelumnya. Dan tentu akan timbul jarak bukan–entah sependek apa pun jarak itu? Kadang jarak itu bisa dijembatani dengan mudah dengan saling menyapa. Tetapi kadang tidak semudah itu. Mungkin karena keterbatasan kita juga, kita tidak bisa menyapa semua teman kita. Jadi, mestinya aku sudah selayaknya menganggap wajar pudarnya kedekatan dengan teman-teman lama. Membiarkan mereka pergi dan menemukan dunia baru, melupakan aku, melanjutkan langkah, atau hanya mengenang kebersamaan kami sepintas-sepintas saja.

Biarlah waktu yang nantinya menyaring siapa teman kita sebenarnya. Mungkin salah satunya adalah teman lama kita–mungkin juga bukan. Dan kurasa aku perlu mulai benar-benar mencari teman baru lagi. Saatnya membuka diri, mencari komunitas baru, menyapa orang-orang di sekitarku, dan menjalin relasi. Kuakui ini tidak mudah bagiku karena aku bukan orang yang dengan mudah berkawan. Tetapi ini bisa dilakukan. Dan satu lagi, tak perlu lagi aku menyimpan kepedihan-kepedihan masa lalu. Memaafkan semua yang pernah terjadi memang perlu proses, tetapi kurasa aku bisa melewatinya.

Menanggapi Sakit

Kira-kira seminggu yang lalu, aku naik bus dari sekitar jalan Proklamasi menuju jalan Diponegoro. Mumpung sedang merasa fit, jadi aku keluar rumah. Janjian nonton dengan Oni. Jenuh juga di rumah terus.

Kalau tak salah bus yang kutumpangi bernomor 67. Aku tak ingat persis. Yang aku ingat itu adalah bus produksi Jepang, warna hijau. Baru pertama kali aku naik bus itu. Aku dapat tempat duduk paling belakang.

Seperti biasa, aku mengamati keadaan sekelilingku. Berusaha tidak memikirkan apa-apa. Hanya berusaha untuk menikmati dan mensyukuri apa yang ada. Kini dan di sini. Hatiku tenang. Di depanku kulihat ada seorang ibu-ibu berkerudung dengan seorang bocah perempuan di sampingnya. Bocah ini mungkin berumur 4-5 tahun. Masih berseragam TK kalau tak salah. Ia menyanyi dan mengoceh sendirian. Di seberang, ada seorang bocah lelaki. Tampaknya mereka saling melihat. Kulihat mereka berkomunikasi, tapi tak jelas juga. Yang jelas, bocah lelaki itu memerhatikan si bocah perempuan.

Bocah perempuan itu tampak riang. Dia selalu tersenyum sembari mengoceh (atau menyanyi?). Ia tak peduli ketika bocah lelaki di seberangnya tampak bingung dengan ocehannya. Ocehannya tak jelas sama sekali. Agak bindeng. Kupikir dia flu. Tapi ternyata kusadari ia memakai alat pendengaran di telinga kirinya. Oh!

Aku tersentuh olehnya. Dia masih tampak riang. Seperti tak ada beban.

Aku bertanya-tanya, Apakah ia punya banyak teman di sekolah? Apakah teman-temannya menerima dia apa adanya? Apakah ibunya tidak menyesal melahirkan dia? Berbagai pikiran berkecamuk dalam benakku. Tetapi sungguh aku tersentuh oleh wajah riangnya. Dia seperti tidak peduli bahwa suara yang keluar dari mulutnya terdengar sumbang. Ia tetap bernyanyi. Sambil tersenyum.

Aku lalu ingat bahwa beberapa hari sebelumnya aku dan Oni menengok Popo–neneknya Oni. Popo sudah beberapa bulan terakhir ini sakit. Sakit jantung katanya. Aku tak tahu persis bagaimana kondisi dia yang sebenarnya. Hanya saja Popo memang tampak lemah dan muram. Waktu Oni datang, mereka bercakap-cakap dengan bahasa daerah mereka. Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tetapi Oni lalu bilang bahwa Popo stres karena tidak kunjung sembuh.

Ah, aku sangat maklum kalau Popo stres. Sakit memang tidak enak. Apalagi kalau harus beberapa kali ke dokter dan kondisinya juga tak membaik. Mungkin membaik sedikit, tetapi tidak bisa benar-benar pulih seperti sedia kala. Tubuhnya jadi lemah, membuatnya tak bisa beraktivitas seperti dulu. Padahal Popo sebelumnya cukup aktif. Masih memasak setiap hari. Ke pasar dengan jalan kaki. Kadang ke kebun belakang. Kadang masih kulihat ia mengepel lantai, menyapu. Sehat untuk ukuran perempuan usia 80 tahun. Namun, melihatnya kemarin membuatku sedih juga. Popo jadi jarang tersenyum.

Aku mengerti betul betapa sakit-penyakit bisa merenggut sukacita. Sakit bikin stres. Aku sendiri mengalaminya beberapa bulan belakangan ini. Penyakit lamaku kambuh. Aku mens cukup lama. Memang berhenti sendiri. Tetapi kemudian berulang lagi mens lama dalam jarak yang tak terlalu lama. Badanku tidak sakit. Juga tidak lemas. Hanya saja, mens yang lama itu membuatku cemas. Dulu pernah seperti ini, tetapi kata dokter ini penyebabnya ketidakseimbangan hormon. Jika dikasih obat memang bisa berhenti. Tetapi aku tidak ingin bergantung pada obat-obat kimiawi sebenarnya. Aku bertahan tidak ke dokter. Aku minum jamu lewat Bu Wiyono (radiestesi). Memang Bu Wiyono sempat menyarankan aku minum obat juga. Tetapi aku enggan. Aku takut.

Waktu Mbak Tutik meninggal, aku jadi makin stres. Aku akhirnya minum Primolut selama 5 hari. Memang berhenti untuk beberapa waktu. Tetapi barangkali karena aku tidak tuntas minumnya, aku mens lagi. Dan kali ini banyak sekali. Sampai aku jadi benar-benar lemas. Aku lalu baru mau ke dokter. Tapi rupanya setelah dari dokter aku malah jadi stres. Dia bilang aku bisa saja dikuret. Aduh, tambah lemes rasanya. Bukan lemes karena mens tetapi lebih karena pikiran. Pikiran jadi ke mana-mana.

Akhirnya aku pindah dokter. Dan dari proses ketemu dokter pertama dan kedua ini, aku mulai benar-benar berlatih meditasi (lagi). Awalnya aku hanya sering rosario. Kadang rosario membuatku tenang. Tetapi kalau pikiranku ke mana-mana, aku tetap saja kacau. Harusnya aku lebih khusuk dan konsentrasi. Kalau konsentrasi sebenarnya bisa lebih tenang hatiku. Tetapi di saat stres, sulit juga untuk berkonsentrasi. Pikiran benar-benar melompat ke sana kemari. Napas jadi terasa pendek-pendek. Mudah cemas. Padahal kalau cemas, hormon makin kacau. Aku bisa-bisa tak sembuh-sembuh.

Dokter yang kedua ini adalah rekomendasi dari Michelle–teman Oni. Sebelumnya kami sempat berbincang-bincang di rumah Michelle. Aku cerita soal sakitku. Juga kecemasanku. Aku tanya-tanya yoga seperti apa yang bisa membantuku. Michelle bilang kalau sedang mens dia tidak menyarankan untuk yoga. Dia bilang lebih baik aku meditasi saja.

Meditasi yang aku tahu selama ini adalah pertama, konsentrasi pada napas; yang kedua meditasi dengan pengamatan pasif. Untuk yang kedua ini aku pernah ikut retretnya Romo Sudri. Sebenarnya rosario bisa dibilang meditasi juga. Jadi aku meditasi sebisanya. Kadang rosario. Kadang meditasi pengamatan pasif. Untuk meditasi pengamatan pasif, aku lebih nyaman dengan berbaring. Untung aku sudah punya matras yoga. Jadi bisa kupakai untuk meditasi. Kalau rosario, aku lebih suka sambil duduk. Mengucapkan kata demi kata dengan perlahan dalam hati. Efeknya sama: menenangkan.

Kembali ke bocah kecil yang kutemui dalam bis tadi. Aku membandingkan keadaan kami bertiga. Bisa dikatakan kami secara fisik ada hambatan. Namun, bagaimana kami menanggapi penyakit yang ada? Kadang aku berpikir, lebih enak sakit flu. Separah-parahnya kondisi sakit flu, bisa kelihatan dengan signifikan pemulihannya. Dan berapa lama sih kita sakit flu? Mungkin tak sampai berbulan-bulan. Setelah sembuh, bisa beraktivitas seperti semula. Kalau sakit yang tak jelas dan butuh ke dokter beberapa kali, atau barangkali mungkin yang tidak bisa sembuh total, sang penderita bisa stres. Aku awalnya tak mengira bisa stres. Seperti tak berdaya. Dan aku juga tak mengira kalau Popo bisa tidak ceria seperti biasanya. Kupikir tetap bersemangat di kala sakit itu sudah sewajarnya. Maksudnya, tak perlu diupayakan. Toh nanti juga sembuh. Tapi pertanyaan “kapan sembuh?” bisa membuat stres ketika pada kenyataannya tubuh kita tidak kunjung membaik–atau tidak tampak perubahan yang signifikan.

Semangat untuk bisa sembuh. Keyakinan bahwa kita akan sembuh. Pasrah pada kehendak Ilahi. Bertekun sekaligus mengupayakan pengobatan di kala sakit. Semua itu membutuhkan kehendak yang kuat dari dalam diri sendiri. Dan aku percaya semua itu bisa kita dapatkan jika kita bisa pasrah kepada kehendak Tuhan. Pasrah bukan berarti menerima tanpa mengupayakan perbaikan, tetapi sebaliknya. Menerima dan tetap berusaha melakukan yang terbaik. Ini sulit. Karena orang-orang di sekitar kita jarang ada yang benar-benar bisa memahami hal ini. Jarang ada bisa menemani dan membantu kita tetap bersemangat. Jadi, kita sendiri perlu berjuang untuk itu.

Akhirnya, dengan sakit aku jadi meninjau ulang hidupku. Katanya, sakit itu anugerah. Karena dengan sakit aku jadi menghargai kesehatan. Berusaha untuk selalu makan yang sehat, setidaknya berusaha untuk memperbanyak porsi buah dan sayur. Mengurangi makan makanan yang memakai pengawet dan sejenisnya. Olahraga. Berdoa. Meditasi. Berpikir “kini dan di sini.” Berusaha untuk menikmati setiap berkat yang ada. Sekali lagi, ini tidak mudah. Kadang aku masih harus berusaha keras untuk itu. Tetapi ada satu hal yang kurasakan berubah adalah bahwa dengan meditasi (pengamatan pasif) aku jadi lebih tenang dan aku merasa bahwa meditasi ini merupakan kebutuhan. Bukan lagi sebuah kewajiban. Meditasi bagiku seperti doa hening. Membiarkan tangan Tuhan menyentuh hatiku. Tanpa kata-kata. Kubiarkan Dia menyentuhku dan mengasihiku.

Doa Pagi Ini

Tuhan, hari ini aku ingin berjalan bersama-Mu.
Genggamlah tanganku.
Kiranya ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, kegetiran memudar saat Kau pegang tanganku.

Tuhan, aku ingin bergembira di dalam Engkau.
Aku ingin bersyukur atas apa yang terjadi.
Segala sakit dan perkara yang selama ini membayangiku, aku serahkan semua ke dalam tangan-Mu.

Biarlah Engkau saja yang memegang tanganku.
Aku ingin bersukacita atas pekerjaan yang Engkau percayakan kepadaku.

Tuhan, aku hendak bersyukur dan bersukacita karena Engkau ada.
Karena Engkau lebih besar dari segala persoalan yang ada di dunia ini.
Karena Engkau adalah Tuhan.

Tuhan, genggam tanganku. Peganglah aku. Tuntunlah aku.

Doa dan Kesaksian Sederhana yang Menguatkan

Aku tak pernah melupakan kejadian hari itu.

Pagi itu aku harus ke Slipi. Perjalanan ke sana dari rumahku memakan waktu 1,5 jam. Itu jika jalanan tak terlalu macet. Tetapi aku merasa agak kurang fit saat itu. Malam sebelumnya aku batuk dan sulit tidur. Batuk masih kurasakan sampai pagi. Aku memutuskan minum obat batuk sebelum berangkat. Masih ada cukup waktu untuk tidur sejenak sebelum berangkat. Obat batuk memang membuat mataku jadi berat.

Aku tidur kira-kira satu jam lalu terbangun dengan sedikit enggan karena rasanya badanku masih berat. Rasanya aku ingin di rumah saja. Tetapi aku sudah janji untuk menemui seseorang di Slipi. Ah, masak hanya karena sedikit batuk aku jadi manja begini sih? Aku teringat pernyataan bahwa jika kita keras terhadap diri kita, hidup akan menjadi lebih lunak. Entah benar atau tidak, yang jelas aku tak ingin menjadikan kantuk dan batuk menjadi alasan untuk tidak berangkat.

Untuk menuju Slipi total aku harus berganti kendaraan umum empat kali. Di dua kendaraan umum pertama, aku masih mendapat tempat duduk. Di kendaraan umum ketiga, bus sudah penuh. Biarlah, pikirku. Kalau aku tak segera naik bus itu, aku bisa terlambat. Benar, aku harus berdiri. Bus besar itu tak menyisakan tempat duduk buatku. Rasanya berdiri di bus dalam keadaan masih mengantuk terasa berat saat itu. Apalagi perjalanan masih jauh. Namun, aku memberanikan diri berdoa dalam hati, “Tuhan, aku ingin mendapat tempat duduk. Beri aku satu bangku untuk duduk.” Aku merasa, agak berlebihan jika doaku terkabul. Bus ini terus menaikkan penumpang, dan trayek tempuhnya masih jauh. Rasanya tak akan ada penumpang yang turun dalam waktu dekat.

Bus baru menempuh sepertiga dari trayeknya. “Proklamasi! Proklamasi!” Ibu yang duduk di bangku terdekatku turun! Aku mendadak terharu ketika tersadar bahwa doaku terkabul. Aku duduk menggantikan ibu tersebut. Aku bersyukur sekali Tuhan mendengar doa sederhanaku itu. Bahkan ketika aku merasa tak yakin, Tuhan masih memberi perhatian. Terima kasih Tuhan.

Belum lama aku duduk, tak lama naiklah sepasang pengamen.
“Jreng … jreng … jreng”
Sejauh timur dari barat
Kau membuang dosaku
Tiada Kauperhitungkan kesalahanku ….

Aku tertegun. Entah aku mesti merespons bagaimana. Baru saja Tuhan menghadiahiku tempat duduk di dalam bus yang mulai sesak dengan penumpang, sekarang para pengamen itu menyanyikan lagu rohani. Seolah lagu itu meyakinkanku bahwa Tuhan memang hadir dan menemani.

Lagu itu mengingatkan aku saat aku masih bekerja di sebuah penerbitan buku rohani. Setiap pagi kami berkumpul, melakukan renungan pagi bersama. Dan itu adalah salah satu lagu yang sering kami nyanyikan. Namun kali ini yang menyanyi bukan aku bersama teman-teman seruanganku, melainkan dua pengamen bersuara ala kadarnya.

Orang mungkin bisa mengatakan bahwa lagu itu tak cocok dinyanyikan di dalam bus kota. Tetapi toh, aku merasa lagu itu menghiburku. Mengingatkanku sekali lagi bahwa kasih karunia Allah begitu besar. Dia telah menebus aku–dan juga orang-orang di dalam bus kota ini jika mereka mengimani Kristus. Yesus telah menyelesaikan urusanku dengan Tuhan. Dosaku sudah dihapus. Hidup baru telah diberikan. Dan Dia juga masih menyediakan hal yang kubutuhkan, meski itu terbilang sepele di mata-Nya.

Nyanyian para pengamen itu juga mengingatkan aku untuk berani memberikan kesaksian. Mungkin kesaksian dalam bentuk lagu itu tampak ala kadarnya, tetapi toh lagu itu memberikan dampak tersendiri bagiku. Memberikan penguatan bahwa Allah tetap berkarya dan menemani meski di tempat serta suasana yang tampaknya sangat duniawi. Aku pikir, kita masing-masing bisa memberikan kesaksian mengenai penyertaan Tuhan. Jika itu bukan untuk menjangkau orang yang belum mengenal kasih karunia Allah, setidaknya bisa menguatkan sesama kaum beriman.

Aku berdoa kiranya lewat tulisan yang sederhana ini, nama Tuhan senantiasa dimuliakan. Dan kiranya kita juga ingat bahwa Allah senantiasa menyertai bahkan di saat maupun di tempat yang tampaknya Allah tak hadir di situ.

Syukur atas Air

Tuhan,

aku selalu takjub melihat tetes-tetes air. dan air itu pula yang menyegarkanku ketika aku haus. ketika aku mandi.

Apa yang terlintas di benak-Mu ketika Kau menciptakannya?

Untuk membuat kami, manusia yang bodoh ini, merasa senang dan gembira?

Anyway, terima kasih ya Tuhan atas air.

Aku selalu kagum melihat tetes-tetesnya :)

Pelajaran Kemurahan Hati

Sabtu Malam 19 Februari

Aku sudah berniat untuk misa di Klender besok pagi pukul 08.00. Itu berarti aku harus bangun pagi–tidak molor seperti selama beberapa hari ini. Perjalanan dari rumah ke Klender memakan waktu kira-kira 30 menit. Itu plus jalan kaki dan menunggu angkot.

Tapi aku tidur lebih larut dari biasa. Pukul 00.00 aku belum tidur dan belum merasa mengantuk. Gawat! Bisa terlambat bangun, nih. Kupasang alarm pukul 06.00. Kumatikan lampu.

 

Minggu Pagi 20 Februari
Aku terbangun tepat pukul 06.00 saat alarm berbunyi. Rencananya, aku langsung mandi, sarapan roti tawar, lalu berangkat.

Tapi buyar! Suamiku bangun dengan suara serak. Dia radang tenggorokan. Dia tak bisa ikut misa dan jelas aku tak bisa pergi begitu saja tanpa memasak untuknya terlebih dahulu.

Okelah. Kupikir waktu masih cukup. Aku mau masak sayur bening saja. Yang gampang dan cepat saja. Tetapi menjelang pukul 07.00 aku baru selesai masak. Bisa terlambat nih!

Selesai masak, aku buru-buru mandi. Lalu aku makan roti, karena tak mungkin aku tak mengganjal perut sebelum berangkat. Bisa melilit dan kambuh maag-ku. Aku berusaha makan agak cepat.

Pukul 7.20 aku tergesa-gesa berangkat. Aku tak ingin terlambat misa. Apalagi aku janjian dengan temanku, Joanna. Tak enak rasanya membuatnya menungggu. Lagi pula, sebenarnya lebih enakĀ  datang ke gereja lebih awal, saat belum terlalu ramai. (Tapi biasanya aku toh tak bisa datang lebih awal. Adaaaa saja yang membuatku molor. Masih bodoh nih dalam mengatur waktu.)

Aku pikir aku akan naik taksi atau bajaj saja ke Klender. Kutunggu sebentar, tapi tak ada taksi yang lewat. Aku bergegas berjalan ke perempatan untuk mencari angkot 25. Ah, benar-benar pagi yang kacau, pikirku.

Tak lama kemudian angkot 25 pun tiba. Aku berharap angkot ini tidak sering ngetem dan tak lelet jalannya.

Aku langsung naik. Hup! Sesampainya di dalam angkot aku langsung disambut oleh bau yang kurang enak. Duh! Rupanya ada seorang nenek-nenek kurus yang membawa sekresek besar gelas-gelas plastik air minum mineral. Oh, tidak itu saja. Ia juga membawa satu karung besar. Kurasa isinya serupa. Baunya memang tidak menyengat. Tapi lumayan lah membuatku yang berhidung sensitif untuk lebih memilih menghirup udara di luar. Pastilah gelas-gelas plastik itu yang menimbulkan bau tak enak karena tentu tidak (sempat) dicuci bersih setelah diambil dari tempat sampah. Aku sekilas sempat melihat gelas-gelas itu agak kotor.

Ketika sudah setengah jalan, nenek itu turun. Dia menyeret kresek besarnya itu keluar angkot. Masih tersisa karung besar di dalam angkot. Si nenek membayar angkot dengan uang dua ribuan. “Kembali seribu!” katanya pada sopir angkot. He? Dia minta kembalian? Nenek itu naik lebih dulu dari aku, jadi kurasa selembar dua ribuan memang layak untuk dibayarkan. Apalagi dia membawa barang banyak sekali. Jatah kursi untuk orang lain pasti berkurang dong! Tapi aku lalu takjub ketika bapak sopir membeli kembalian, tanpa mengomel! Padahal biasanya, para sopir angkot suka memaksa penumpangnya berdesak-desakan agar mobilnya bisa memuat banyak orang–sehingga dia bisa mendapatkan banyak uang. Aku terpana menyaksikan kemurahan hati sang sopir.

Kemurahan hati berikutnya aku lihat dari orang yang duduk di depanku. Tanpa canggung dia membantu menurunkan satu karung besar milik si nenek. Kurasa dia juga bisa mencium aroma yang kurang sedap dari kantong kresek dan karung itu. Tetapi dia tanpa segan membantu menurunkannya. Dia tak memikirkan bau atau kotoran yang mungkin akan menempel di tangannya. Olala… Aku malu.

Pelajaran tentang kemurahan hati itu tak berhenti sampai di situ. Setelah menurunkan sang nenek, angkot berjalan lagi. Namun, tak berapa lama, angkot itu berhenti. Duh, ngetem! Aku khawatir aku benar-benar terlambat datang ke gereja. Di kejauhan kulihat dua ibu-ibu yang sudah tua akan menyeberang. Di depan ibu-ibu itu ada seorang remaja laki-laki. Model anak alay gitu deh. Bercelana model pensil yang ketat dan rambut jabrik. Pasti dia cucu atau keponakan ibu-ibu tua itu. Kulihat ibu-ibu itu agak kesulitan menyeberang karena ada metromini lewat dan jalan mulai ramai. Pemuda tanggung itu menyeberang bersama mereka. Dan tak lama ibu-ibu itu naik ke dalam angkot. Loh, tapi di mana remaja tadi? Ya, ampun! Ternyata dia sudah kembali ke seberang jalan. Bocah alay tadi hanya membantu menyeberang dua ibu-ibu tua yang kini sudah duduk di depanku.

Pagi itu aku menyaksikan kemurahan hati orang-orang biasa yang tak kukenal. Aku yakin, semua itu terjadi karena belas kasih Tuhan menyentuh mereka masing-masing, sehingga mereka bisa bermurah hati kepada orang lain. Dan perbuatan baik mereka menyentuhku.

Aku malu pada diriku sendiri. Tetapi aku juga bersyukur, Tuhan mengajarkan kemurahan hati kepadaku di pagi hari saat aku tergesa-gesa menuju rumah-Nya. Di sela waktu yang sempit, Tuhan memberikan pelajaran berharga bahwa kasih Tuhan itu begitu melimpah, dan kita sebenarnya selalu mampu untuk berbuat baik.

Pelajaran lain yang kupetik adalah, jika kita mau membuka hati, kita akan bisa merasakan serta menyadari betapa Tuhan sudah memberikan kasih yang begitu melimpah. Kasih itulah yang memampukan kita untuk mengasihi sesama.

Tuhan, terima kasih atas pelajaran kemurahan hati yang Kauberikan kepadaku. Walaupun aku sedang tergesa-gesa, Kau masih menyisipkan pelajaran penting kepadaku. Tuhan, bantulah aku untuk selalu menyadari kebesaran kasih-Mu. Dan bantulah aku untuk membuka diri sehingga kasih-Mu yang begitu besar itu bisa tersalurkan kepada banyak orang. Bantulah aku untuk menghancurkan kesombongan hati sehingga nantinya hanya nama-Mu yang dimuliakan. Amin.

Go Somewhere

Lord, i want to go somewhere. You know exactly where I want to go. I’ll go with my loved one–the one that I do love. You know him well, don’t You?

 

We will do something that makes us proud there. To learn something new. Is it too much, Lord? I hope You help us to reach our dream. Amen.

*sebuah catatan di ujung kebosanan…*

Pemulung yang Mengingatkanku

Tadi pagi, sepulang dari pasar, aku berpapasan dengan seorang pemulung. Kulihat dia dari kejauhan, sedang mengaduk-aduk tempat sampah di sebuah rumah. Pakaiannya kumal berwarna krem dan terdapat bekas-bekas kotoran yang menempel. Kuperhatikan tak banyak yang diambilnya. Hanya tutup galon Aqua. Tapi harus kuakui, usahanya untuk mengaduk-aduk tempat sampah itu perlu diacungi jempol. Bisa membayangkan kan, bagaimana kondisi bak sampah yang terguyur air hujan? Mungkin ada genangan di dalamnya. Dan entah seperti apa isi bak sampah itu jika sampah organik dan non-organik bercampur. Yang jelas, baunya pasti aduhai ….

Mesti kuakui, sekelebat ada perasaan jijik saat melihat pekerjaan yang dilakukannya. Dan melihat penampilannya yang kacau itu, aku jadi membandingkan dengan penampilanku. Ya, walaupun cuma ke pasar dekat rumah, aku tak pernah memakai baju tidur yang sudah lecek. Kekumalannya membuatku–dalam beberapa detik–merasa jumawa, menganggap diriku lebih baik darinya.

Lord, have mercy. Tuhan ampunilah aku.

Kalimat itu berkelebat saat aku tersadar. Melihat pemulung tersebut, aku teringat pengalamanku saat ikut suatu pelatihan, di mana aku wajib “turun” ke jalan dengan ikut seorang pemulung. Aku ingat betul bagaimana perasaan yang timbul saat itu. Mendadak aku merasa tak berharga. Entah bagaimana perasaan seperti itu muncul. Mungkin karena selama ini aku menganggap orang-orang jalanan itu lebih rendah. Mungkin aku terlalu membandingkan penampilannya dengan penampilanku.

Sebelum turun menjadi pemulung, aku tanpa sadar mungkin menganggap diriku lebih baik, lebih bersih, lebih berharga. Saat itu aku juga memperingatkan diriku bahwa tak mungkin aku dilirik oleh para mahasiswa yang sedang bersliweran dengan sepeda motornya. “Ah, mereka tak mungkin memandangku yang memakai baju kumal seperti ini.” Dari pemikiran seperti itu saja sebenarnya aku tanpa sadar selama ini sudah menganggap para pemulung–orang-orang berpenampilan lusuh dan kumal–lebih rendah daripada aku.

Pertemuanku dengan pemulung tadi pagi, mengingatkanku agar aku tak terlalu sombong. Semua orang punya kekurangan dan kelemahan. Lagi pula, apa sih arti penampilan di mata Tuhan? Mataku buta karena hanya melulu melihat penampilan–hanya memerhatikan apa yang tampak. Aku sama sekali tidak mengenal bapak pemulung itu. Siapapun pasti punya sisi baik, walaupun terlihat samar. Lagi pula, pekerjaan pemulung itu ada gunanya juga buat kita. Walaupun mungkin dia selama ini bekerja untuk mencari nafkah, tanpa disadari dia membantu mengumpulkan sampah non-organik yang bisa didaur ulang.

Bagaimanapun, aku merasa diingatkan oleh bapak pemulung tadi pagi–bahwa tak seharusnya aku hanya melihat penampilan. Tak perlu pula memandang rendah orang lain yang tampak lebih kumal…