Menanggapi Sakit

Kira-kira seminggu yang lalu, aku naik bus dari sekitar jalan Proklamasi menuju jalan Diponegoro. Mumpung sedang merasa fit, jadi aku keluar rumah. Janjian nonton dengan Oni. Jenuh juga di rumah terus.

Kalau tak salah bus yang kutumpangi bernomor 67. Aku tak ingat persis. Yang aku ingat itu adalah bus produksi Jepang, warna hijau. Baru pertama kali aku naik bus itu. Aku dapat tempat duduk paling belakang.

Seperti biasa, aku mengamati keadaan sekelilingku. Berusaha tidak memikirkan apa-apa. Hanya berusaha untuk menikmati dan mensyukuri apa yang ada. Kini dan di sini. Hatiku tenang. Di depanku kulihat ada seorang ibu-ibu berkerudung dengan seorang bocah perempuan di sampingnya. Bocah ini mungkin berumur 4-5 tahun. Masih berseragam TK kalau tak salah. Ia menyanyi dan mengoceh sendirian. Di seberang, ada seorang bocah lelaki. Tampaknya mereka saling melihat. Kulihat mereka berkomunikasi, tapi tak jelas juga. Yang jelas, bocah lelaki itu memerhatikan si bocah perempuan.

Bocah perempuan itu tampak riang. Dia selalu tersenyum sembari mengoceh (atau menyanyi?). Ia tak peduli ketika bocah lelaki di seberangnya tampak bingung dengan ocehannya. Ocehannya tak jelas sama sekali. Agak bindeng. Kupikir dia flu. Tapi ternyata kusadari ia memakai alat pendengaran di telinga kirinya. Oh!

Aku tersentuh olehnya. Dia masih tampak riang. Seperti tak ada beban.

Aku bertanya-tanya, Apakah ia punya banyak teman di sekolah? Apakah teman-temannya menerima dia apa adanya? Apakah ibunya tidak menyesal melahirkan dia? Berbagai pikiran berkecamuk dalam benakku. Tetapi sungguh aku tersentuh oleh wajah riangnya. Dia seperti tidak peduli bahwa suara yang keluar dari mulutnya terdengar sumbang. Ia tetap bernyanyi. Sambil tersenyum.

Aku lalu ingat bahwa beberapa hari sebelumnya aku dan Oni menengok Popo–neneknya Oni. Popo sudah beberapa bulan terakhir ini sakit. Sakit jantung katanya. Aku tak tahu persis bagaimana kondisi dia yang sebenarnya. Hanya saja Popo memang tampak lemah dan muram. Waktu Oni datang, mereka bercakap-cakap dengan bahasa daerah mereka. Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tetapi Oni lalu bilang bahwa Popo stres karena tidak kunjung sembuh.

Ah, aku sangat maklum kalau Popo stres. Sakit memang tidak enak. Apalagi kalau harus beberapa kali ke dokter dan kondisinya juga tak membaik. Mungkin membaik sedikit, tetapi tidak bisa benar-benar pulih seperti sedia kala. Tubuhnya jadi lemah, membuatnya tak bisa beraktivitas seperti dulu. Padahal Popo sebelumnya cukup aktif. Masih memasak setiap hari. Ke pasar dengan jalan kaki. Kadang ke kebun belakang. Kadang masih kulihat ia mengepel lantai, menyapu. Sehat untuk ukuran perempuan usia 80 tahun. Namun, melihatnya kemarin membuatku sedih juga. Popo jadi jarang tersenyum.

Aku mengerti betul betapa sakit-penyakit bisa merenggut sukacita. Sakit bikin stres. Aku sendiri mengalaminya beberapa bulan belakangan ini. Penyakit lamaku kambuh. Aku mens cukup lama. Memang berhenti sendiri. Tetapi kemudian berulang lagi mens lama dalam jarak yang tak terlalu lama. Badanku tidak sakit. Juga tidak lemas. Hanya saja, mens yang lama itu membuatku cemas. Dulu pernah seperti ini, tetapi kata dokter ini penyebabnya ketidakseimbangan hormon. Jika dikasih obat memang bisa berhenti. Tetapi aku tidak ingin bergantung pada obat-obat kimiawi sebenarnya. Aku bertahan tidak ke dokter. Aku minum jamu lewat Bu Wiyono (radiestesi). Memang Bu Wiyono sempat menyarankan aku minum obat juga. Tetapi aku enggan. Aku takut.

Waktu Mbak Tutik meninggal, aku jadi makin stres. Aku akhirnya minum Primolut selama 5 hari. Memang berhenti untuk beberapa waktu. Tetapi barangkali karena aku tidak tuntas minumnya, aku mens lagi. Dan kali ini banyak sekali. Sampai aku jadi benar-benar lemas. Aku lalu baru mau ke dokter. Tapi rupanya setelah dari dokter aku malah jadi stres. Dia bilang aku bisa saja dikuret. Aduh, tambah lemes rasanya. Bukan lemes karena mens tetapi lebih karena pikiran. Pikiran jadi ke mana-mana.

Akhirnya aku pindah dokter. Dan dari proses ketemu dokter pertama dan kedua ini, aku mulai benar-benar berlatih meditasi (lagi). Awalnya aku hanya sering rosario. Kadang rosario membuatku tenang. Tetapi kalau pikiranku ke mana-mana, aku tetap saja kacau. Harusnya aku lebih khusuk dan konsentrasi. Kalau konsentrasi sebenarnya bisa lebih tenang hatiku. Tetapi di saat stres, sulit juga untuk berkonsentrasi. Pikiran benar-benar melompat ke sana kemari. Napas jadi terasa pendek-pendek. Mudah cemas. Padahal kalau cemas, hormon makin kacau. Aku bisa-bisa tak sembuh-sembuh.

Dokter yang kedua ini adalah rekomendasi dari Michelle–teman Oni. Sebelumnya kami sempat berbincang-bincang di rumah Michelle. Aku cerita soal sakitku. Juga kecemasanku. Aku tanya-tanya yoga seperti apa yang bisa membantuku. Michelle bilang kalau sedang mens dia tidak menyarankan untuk yoga. Dia bilang lebih baik aku meditasi saja.

Meditasi yang aku tahu selama ini adalah pertama, konsentrasi pada napas; yang kedua meditasi dengan pengamatan pasif. Untuk yang kedua ini aku pernah ikut retretnya Romo Sudri. Sebenarnya rosario bisa dibilang meditasi juga. Jadi aku meditasi sebisanya. Kadang rosario. Kadang meditasi pengamatan pasif. Untuk meditasi pengamatan pasif, aku lebih nyaman dengan berbaring. Untung aku sudah punya matras yoga. Jadi bisa kupakai untuk meditasi. Kalau rosario, aku lebih suka sambil duduk. Mengucapkan kata demi kata dengan perlahan dalam hati. Efeknya sama: menenangkan.

Kembali ke bocah kecil yang kutemui dalam bis tadi. Aku membandingkan keadaan kami bertiga. Bisa dikatakan kami secara fisik ada hambatan. Namun, bagaimana kami menanggapi penyakit yang ada? Kadang aku berpikir, lebih enak sakit flu. Separah-parahnya kondisi sakit flu, bisa kelihatan dengan signifikan pemulihannya. Dan berapa lama sih kita sakit flu? Mungkin tak sampai berbulan-bulan. Setelah sembuh, bisa beraktivitas seperti semula. Kalau sakit yang tak jelas dan butuh ke dokter beberapa kali, atau barangkali mungkin yang tidak bisa sembuh total, sang penderita bisa stres. Aku awalnya tak mengira bisa stres. Seperti tak berdaya. Dan aku juga tak mengira kalau Popo bisa tidak ceria seperti biasanya. Kupikir tetap bersemangat di kala sakit itu sudah sewajarnya. Maksudnya, tak perlu diupayakan. Toh nanti juga sembuh. Tapi pertanyaan “kapan sembuh?” bisa membuat stres ketika pada kenyataannya tubuh kita tidak kunjung membaik–atau tidak tampak perubahan yang signifikan.

Semangat untuk bisa sembuh. Keyakinan bahwa kita akan sembuh. Pasrah pada kehendak Ilahi. Bertekun sekaligus mengupayakan pengobatan di kala sakit. Semua itu membutuhkan kehendak yang kuat dari dalam diri sendiri. Dan aku percaya semua itu bisa kita dapatkan jika kita bisa pasrah kepada kehendak Tuhan. Pasrah bukan berarti menerima tanpa mengupayakan perbaikan, tetapi sebaliknya. Menerima dan tetap berusaha melakukan yang terbaik. Ini sulit. Karena orang-orang di sekitar kita jarang ada yang benar-benar bisa memahami hal ini. Jarang ada bisa menemani dan membantu kita tetap bersemangat. Jadi, kita sendiri perlu berjuang untuk itu.

Akhirnya, dengan sakit aku jadi meninjau ulang hidupku. Katanya, sakit itu anugerah. Karena dengan sakit aku jadi menghargai kesehatan. Berusaha untuk selalu makan yang sehat, setidaknya berusaha untuk memperbanyak porsi buah dan sayur. Mengurangi makan makanan yang memakai pengawet dan sejenisnya. Olahraga. Berdoa. Meditasi. Berpikir “kini dan di sini.” Berusaha untuk menikmati setiap berkat yang ada. Sekali lagi, ini tidak mudah. Kadang aku masih harus berusaha keras untuk itu. Tetapi ada satu hal yang kurasakan berubah adalah bahwa dengan meditasi (pengamatan pasif) aku jadi lebih tenang dan aku merasa bahwa meditasi ini merupakan kebutuhan. Bukan lagi sebuah kewajiban. Meditasi bagiku seperti doa hening. Membiarkan tangan Tuhan menyentuh hatiku. Tanpa kata-kata. Kubiarkan Dia menyentuhku dan mengasihiku.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s