Akhir pekan yang lalu salah seorang kawanku, L, datang ke rumah. L ini hanya salah satu dari sedikit teman dari tempat kerjaku dulu yang masih bisa kuajak bicara. Sedikit teman? Ya, memang, hanya sedikit yang sampai sekarang masih klik di hatiku. Bukannya mau membeda-bedakan teman, tetapi wajar bukan jika ada teman yang kita merasa cocok dan tidak? Sebenarnya dengan teman-teman yang dulu juga bisa dibilang tidak ada masalah. Tapi kalau mau jujur, aku merasa tidak semua bisa kuajak bicara secara dekat. Walaupun dengan L tidak dekat-dekat banget, tetapi dibanding teman-teman dari tempat kerjaku dahulu, dia bisa dibilang yang lumayan dekat.
Kadang aku tidak tahu kenapa ya bisa begitu. Dan sebenarnya aku tidak terlalu suka juga dengan hal ini. Maksudnya, bukan berarti aku tidak suka masih bisa mengobrol dengan L. Bukan, bukan begitu. Tetapi aku justru bertanya-tanya, kenapa dengan teman-teman yang lain tidak bisa seperti itu.
Misalnya dengan T atau M. Dulu seingatku, aku masih bisa ngobrol panjang lebar dengan T. Tapi belakangan tidak. Waktu awal-awal tinggal di Jakarta, aku masih suka menelepon T, tetapi kemudian hpnya rusak atau bagaimana aku kurang paham, dan akhirnya aku sulit meneleponnya. Akhirnya kami jarang berkontak. Pernah dulu aku berusaha telepon, tetapi tidak diangkat. Terakhir aku SMS, dia tidak menjawab. Entah apa SMSku tidak sampai atau bagaimana. Tapi kalau di FB kami masih suka saling berkontak, walaupun jarang sekali. Kadang aku bertanya-tanya, apakah T tidak suka jika aku lama-lama meneleponnya? (Memang aku mudah sekali berpikir bahwa jika dia tidak mengangkat teleponku, berarti dia memang tidak mau kuganggu.) Ah, aku tak mau berpikir sejauh itu. Biarlah dia sendiri yang bisa menjawabnya. Aku tak perlu menebak-nebak dan memperkeruh pikiranku sendiri. Lebih baik aku tetap menjaga pertemanan dengannya.
Kalau dengan M, menurut perasaanku, kami lebih jarang lagi berkontak. Bahkan aku kadang agak asing dengannya. Padahal dia dulu duduk sebelahan denganku. Dulu sih rasanya suka mengobrol juga waktu di kantor. Tapi aku ingat, dia dulu menceritakan relasinya dengan pacarnya bukan denganku, tetapi dengan T (dan dengan L?). Aku sih tak masalah. Setiap orang berhak memilih tempat untuk berbagi cerita bukan? Kadang kulihat dia online di YM, tapi aku merasa enggan menghubunginya. Dan dia juga tak pernah menghubungiku terlebih dahulu. Seakan-akan seperti ada tirai yang enggan kusibakkan. Entah kenapa bisa begini. Mungkin bebannya ada di pihakku saja.
Memang, kalau aku bertemu dengan L, kami kadang masih membicarakan tempat kerja kami yang dulu. Dan memang itu salah satu “materi penyambung” yang membuat kami tetap bisa bicara. Tapi tentu bukan satu-satunya ya. L masuk ke tempat kerjaku dulu cuma selisih satu tahun denganku. Jadi, lamanya kami berada di sana, kurang lebih hampir sama. Dan ada beberapa peristiwa penting yang kami lalui bersama di sana.
Bertemu teman-teman lama, baik itu kawan dari tempat kerja yang lama maupun teman sekolah, biasanya yang dibicarakan adalah kenangan. Kenangan saat satu sekolah dulu, saat di tempat kerja yang lama, tentang guru X, tentang pelajaran Y, tentang konflik dengan atasan, tentang masalah atau kejadian lucu yang sempat muncul. Tanpa ada itu, tidak akan timbul percakapan. Tak ada benang merah yang menghubungkan.
Hubunganku dengan T atau M barangkali agak luntur karena kami seakan-akan menolak membicarakan masa lalu di tempat kerja kami dulu. Setidaknya itu yang kurasakan/menurutku. Misalnya terakhir waktu aku mencoba bertanya kepada M kenapa ada–sebut saja–majalah baru yang muncul, yang sangat mirip dengan majalah yang dikeluarkan oleh tempat kerjaku dulu, dia menjawab, dia tak mau memikirkan hal itu. Hmm, ya, barangkali dia terakhir-terakhir sempat merasakan ada ganjalan-ganjalan di (bekas) kantor kami. Tapi aku tak tahu sih karena dia tak pernah cerita. Dan rasanya itu mungkin saja terjadi karena aku melihat ada banyak sekali perubahan di sana. Yang namanya perubahan, belum tentu menyenangkan semua pihak bukan? M sekarang sudah resign dan dia memulai aktivitas yang sama sekali berbeda. Aku sih ikut senang. Toh sebenarnya kami tak ada masalah. Maksudnya, tak pernah ada pertengkaran. Tak pernah ada perbedaan tajam yang membuat kami berselisih paham.
Mungkin (lagi-lagi) masalahnya ada di aku. Aku memandang ada perubahan. Dulu, waktu aku keluar dari tempat kerja dan pindah ke Jakarta, aku masih berharap bisa terus berkontak dengan teman-teman. Aku masih sesekali berharap jika mereka ke Jakarta, aku diberi kabar. Mungkin bisa bertemu barang semenit atau dua menit. Tetapi ternyata tidak. Aku awalnya yang minta supaya dikontak, dan mereka menjawab iya, tetapi kenyataannya, mereka tidak mengontakku. Tidak pernah ada ajakan untuk bertemu dan mengobrol santai. Pernah sih sekali, tetapi itu agak formal rasanya. Jadi ceritanya, mereka ke Jakarta dan menemui para outsourcer. Masing-masing diberi bingkisan. Menurutku, ini berbeda jika mereka mencuri waktu untuk bertemu dan tanpa agenda apa pun. Tak usah ada bingkisan. Tak perlu ditraktir makan. Cukuplah dengan bicara dan menyapa. Jujur saja, aku merasa sedih menyaksikan perubahan itu. Aku seperti tiba-tiba diletakkan di lingkaran terluar, padahal dulu kami toh juga sering bersama-sama. Satu ruangan, duduk bersebelahan, mengobrol ngalor ngidul. Tetapi semua itu menguap begitu saja setelah aku mengundurkan diri dari tempat kerja. Ya, mungkin mereka sibuk sekali saat berada di Jakarta. Tetapi yah, sebenarnya jarak kantor cabang tempat mereka menginap dan rumahku cukup dekat. Aku masih mau menyempatkan diri datang ke sana pagi-pagi jika mereka mau. Tetapi ya gitu, mereka tidak mengontak.
Satu hal lagi pelajaran yang kudapat setelah aku keluar dari tempat kerjaku adalah pentingnya menjaga relasi dengan para outsourcer. Dulu aku sangat jarang berkomunikasi dengan para outsourcer ini. Aku berkomunikasi hanya kalau mau memberi pekerjaan. Tapi rasanya sekarang aku berpikir, ada baiknya jika pihak pemberi kerja lebih sering menyapa para outsourcer ini. Tak perlu menunggu momen, misalnya memberikan bingkisan atau ucapan waktu hari raya. Namun, jika di waktu-waktu biasa mereka berkomunikasi, kurasa akan timbul kerja sama yang lebih baik lagi. Ini memang agak sulit mengingat komunikasi biasanya terjadi pada saat ada kepentingan. Kalau sedang tidak ada pekerjaan, apa yang mau dikomunikasikan? Tentu saja bukan melulu soal pekerjaan, hal remeh-temeh pun kurasa bisa dibicarakan. Intinya, sapalah. Para outsourcer adalah aset. Jika hubungan dengan pemberi kerja baik, maka mereka bisa memberikan kontribusi positif. Misalnya, saat bekerja, mereka bisa memberikan hasil terbaik karena mengingat relasi baik di antara mereka. Kurasa masih banyak kontribusi positif yang bisa diberikan jika
Hidup ini terus berjalan. Dan seiring berjalannya waktu, kita mengalami banyak hal, hidup kita pun terus berjalan. Dan kita tak bisa selalu menyatukan benang-benang yang dulu tersambung dengan erat. Saat kita beranjak, kita menuju ke arah yang berbeda dari teman-teman kita sebelumnya. Dan tentu akan timbul jarak bukan–entah sependek apa pun jarak itu? Kadang jarak itu bisa dijembatani dengan mudah dengan saling menyapa. Tetapi kadang tidak semudah itu. Mungkin karena keterbatasan kita juga, kita tidak bisa menyapa semua teman kita. Jadi, mestinya aku sudah selayaknya menganggap wajar pudarnya kedekatan dengan teman-teman lama. Membiarkan mereka pergi dan menemukan dunia baru, melupakan aku, melanjutkan langkah, atau hanya mengenang kebersamaan kami sepintas-sepintas saja.
Biarlah waktu yang nantinya menyaring siapa teman kita sebenarnya. Mungkin salah satunya adalah teman lama kita–mungkin juga bukan. Dan kurasa aku perlu mulai benar-benar mencari teman baru lagi. Saatnya membuka diri, mencari komunitas baru, menyapa orang-orang di sekitarku, dan menjalin relasi. Kuakui ini tidak mudah bagiku karena aku bukan orang yang dengan mudah berkawan. Tetapi ini bisa dilakukan. Dan satu lagi, tak perlu lagi aku menyimpan kepedihan-kepedihan masa lalu. Memaafkan semua yang pernah terjadi memang perlu proses, tetapi kurasa aku bisa melewatinya.