Kepergian Mereka

Kabar itu menyergapku. (Ah, berlebihan rasanya kalimat ini.) Sampai sekarang, kabar tentang Femi membuatku termangu.

Kecelakaan pesawat itu membuatku tak percaya. Sepertinya kenyataan itu tak pernah ada. Walaupun aku tidak berteman dekat dengannya, tapi kecelakaan yang akhirnya mengantarkan kepulangannya membuatku berpikir dalam. Mungkin kepergiannya mengingatkan aku tentang hidup. Seperti mengetuk isi kepalaku. Aku masih membaca-baca blognya. Blognya begitu ceria, berwarna. Kalaupun ada kegundahan, tetap tidak begitu gelap bagiku. Mungkin diam-diam sebetulnya aku mengaguminya. Dia mandiri dan aku melihat dia sebagai sosok yang menjadi dirinya sendiri. Rasanya itu berkebalikan denganku. Aku tidak terlalu mandiri (apalagi sejak di Jakarta ini, entah mengapa kemandirianku rasanya tersedot banyak sekali). Dan betapa aku masih bergulat untuk menjadi diriku sendiri. Kenapa rasanya kadang aku hidup di bawah bayang-bayang orang lain. Apa sih yang aku mau? Dan kok sepertinya aku kurang greget. *Gemes dengan diriku sendiri.*

Mungkin inilah yang membuatku senang di blog yang satu ini: Sepi! Aku merasa lega jika melihat di bagian statistik blog ini sepi pengunjung. Thank God! Kalau di blogku yang lain, aku memang seperti butuh pengunjung, butuh teman. Tapi di blog yang sepi ini aku seolah bisa menarikan tanganku di atas keyboard dengan lebih ringan. Aku tidak perlu jaim. Lah, siapa juga sebenarnya yang “mengharuskan” aku jaim di blog lainnya? Nggak juga sih. Tapi benar, aku senang blog ini tetap sepi. Atau kalaupun ada yang membaca, tak perlu kubaca komentarnya. (Mungkin suatu saat aku perlu menutup kolom komentar?)

Ah, balik ke Femi lagi. Ya, begitulah, kepergiannya mengingatkan aku betapa singkatnya hidup ini. Dan kadang kepergian seseorang itu begitu tiba-tiba dan … tragis! Ah, Fem … kamu masih muda. Begitu kenangku terhadapnya. Dan kepergian Mbak Tutik sampai sekarang kadang membuatku mengharu biru. Ya, Mbak … ternyata kau sudah tidak bisa menjawab SMS-ku lagi. Aku jadi berpikir, tak kusangka teman yang kujumpai usianya begitu pendek. Ah, aku kan masih muda. Baru 30 lebih sedikit. Masih muda kan? Tapi di usiaku ini, setidaknya dua temanku meninggal di usia yang selisih tak begitu jauh dariku.

Kepergian mereka menyentakku. Mengubah pendekatanku terhadap kematian. Kematian itu tidak hanya milik orang yang sudah renta atau penyakitan. Kematian ini bisa dialami siapa saja. Termasuk yang masih kanak-kanak (atau bahkan bayi yang baru lahir). Selama ini aku lupa bahwa kematian bisa menyergapku kapan saja. Seperti pencuri di malam hari. Sama sekali tak kutahu kapan Dia ingin menghadirkanku di dunia lain yang kabarnya lebih damai–meninggalkan semua yang ada di sini. Ya, semua! Aku lupa bahwa semua itu termasuk teman, buku-bukuku, keinginanku, kucing-kucing liar di halaman, kelinci, kerabat. Semua! Bahwa akhirnya yang penting adalah aku dan Dia (serta apa yang Dia inginkan). Bahwa akhirnya tak perlu jaim di depan Dia dan sudah saatnya menjalin relasi yang lebih akrab dengan-Nya. Lucu kan kalau saat berjumpa dengan Dia aku bertanya, “Kita mau ngapain? Garing kayaknya.” Hehe.

Kepergian mereka mengetuk-ngetuk isi kepalaku. Mendorongku supaya membuat prioritas yang lebih cerdas. Tak cuma memelototi FB atau blogwalking tak ketahuan juntrungannya. Atau main game tak kenal waktu. Lalu akhirnya buru-buru melakukan ini dan itu. Ayo pakai waktumu lebih bijak, Nik!

Kepergian mereka juga membuatku merasa sedikit lega. Lega karena nanti di dunia nan damai itu, ada teman yang (mungkin) aku jumpai. Entahlah, ini pemikiran sesat atau apa. Tapi aku memang berharap, mereka ada di dunia yang damai itu.

Tuhan, kiranya Engkau selalu menolongku. Dan kiranya aku juga menyadari pertolongan-Mu; mengandalkan-Mu.

Terus Berjuang

Teruslah berjuang dan berkarya, walaupun rasanya semua itu kamu lakukan sendirian. *menyemangati diri sendiri yang sedang loyo dan males* Kerjakanlah itu seolah-olah demi Tuhan. :)

Apa Tugasku?

Beberapa waktu yang lalu tanpa sengaja aku menemukan sebuah tulisan seseorang yang pernah mengalami mati suri. Seperti yang sudah sering kubaca mengenai pengalaman orang yang mati suri, orang tersebut seperti melewati lorong yang panjang. Lalu karena “belum waktunya” dia harus kembali ke dunia. Pekerjaannya belum selesai.

Kadang aku berpikir-pikir, sebenarnya apa tugasku–secara spesifik–di dunia ini? Tentu bukan sekadar berbuat baik. Aku yakin, Tuhan pasti punya rencana khusus buatku.

Beberapa waktu belakangan ini aku kadang merasa “blank”, tidak tahu mesti berbuat apa. Terakhir kemarin ada terjemahan yang cukup banyak, tapi kemudian sekarang sudah selesai dan aku masih cari-cari, atau lebih tepatnya menunggu. Tapi kadang aku pikir, bukankan waktu seperti ini yang kunantikan? Saat aku bisa konsen untuk menulis. Dan memang sebetulnya ada yang harus kutulis. Cuma kok rasanya malas betul. Dan lagi kondisi fisikku masih belum fit betul (yang akhirnya berujung pada kekhawatiran, sebenarnya aku ini ngapain sih, kok tubuhku nggak beres-beres?).

Mestinya aku mulai menulis.

Tapi, ya ampun mengalahkan diriku sendiri itu sulit. Aku jadi bertanya-tanya, “Ke mana diriku yang dahulu?”

Dan tadi waktu aku misa, aku masih membawa beberapa pertanyaan soal tugasku di dunia ini dan soal kondisi tubuhku. Misa tadi rasanya begitu personal. Entah kenapa bisa begitu. Tapi aku merasa Yesus seperti memelukku. Rasanya aku memang butuh pelukan-Mu, Gusti. Rasanya aku hanya ingin menyandarkan pundakku sejenak, sampai aku cukup kuat untuk melangkah lagi. (Ya, ampun … lebay bener sih aku?)

Tuhan, aku ingin jika waktunya tiba kelak, aku kembali pada-Mu dengan sudah menuntaskan apa yang Kautugaskan padaku. Aku masih belum tahu persis, apakah yang selama ini aku kerjakan adalah tugas dari-Mu. Tapi aku ingin menyenangkan-Mu. Bantulah aku supaya tidak hanya terpaku pada pencapaian-pencapaian duniawi, tetapi kiranya aku bisa melihat rencana agung-Mu.

Gusti, kulo nyuwun kawelasan …

 

 

 

Lika-liku Mencari Pasangan Hidup yang Seiman

Ini cerita seorang teman, sebut saja namanya Fifi. Setelah berpacaran bertahun-tahun, lima tahun lebih, akhirnya Fifi memutuskan untuk menikah. Senang? Yaaa, senang. Senang, karena akhirnya dia tiba sampai keputusan untuk menikah. Berarti dia sudah memantapkan langkah. Bertemu orang yang menjadi pasangannya, yang akan menemani hari-harinya ke depan. Iya, kan?

Tapi keputusannya untuk menikah itu juga menyimpan kesedihan. Lo, kok pakai sedih segala? Bukan, ini bukan karena ada cowok yang patah hati karena tidak jadi menikah dengan Fifi. Lalu, siapa dong yang sedih? Yang sedih orang tuanya. Lo … lo … orang tua mestinya senang dong anaknya menikah? Masalahnya, Fifi menikah dengan orang yang beda agama. Kakak-kakak Fifi juga sedih. Tapi karena Fifi sudah yakin seyakin-yakinnya bahwa pacarnya sekarang adalah pasangan hidupnya. Tidak bisa diganggu gugat lagi.

Hmm, setiap kali ada pasangan beda agama yang mau menikah, aku jadi teringat pengalamanku dulu. Gini-gini aku pernah punya pacar beda agama lo. (Hehe, kok ya dibanggakan to?) Wah, pacarku dulu itu ganteng dan baik hati. :D :D Semriwing kalau dekat dia. Kaya makan permen saja. Ya, intinya saya senang punya pacar seperti dia. Aku tahu sih, kami berbeda iman. Tapi aku pikir, ah … cinta akan mengatasi hal itu. Katanya cinta mengatasi perbedaan kan? Lagi pula, ini kan baru permulaan. Lihat saja nanti bagaimana cinta bekerja. Pokoknya sekali cintah … tetap cintah! :D

Tapi, tetap saja aku tanya-tanya pada kakakku, bagaimana pendapatnya tentang pacarku yang beda agama ini. Dia cuma bilang begini, yang jelas Bapak pasti tidak setuju. Tetapi bagaimanapun keputusanku kelak, dia akan tetap sayang sama aku sebagai adiknya. (Hiks, terharu aku …) Lalu, aku akhirnya laporan ke Bapak tentang pacarku nan tampan dan baik hati ini. Seperti yang sudah diduga, Bapak tidak setuju. “Tapi, dia baik, Pak. Baik sekali,” jawabku. Bapak sekali tidak setuju, ya tidak setuju. Hmmph … sedih aku. Dan waktu pacarku tahu ayahku tidak merestui hubungan kami, dia mengatakan bahwa sebaiknya kami tidak melanjutkan hubungan.

Doeeeng …!  

Jadi, begini ya cinta bekerja? Mana itu cinta yang katanya bisa mengatasi perbedaan? Huh, mengecewakan. Namanya orang putus cinta, patah hati, kebayang dong bagaimana rasanya? Sedih … Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Hihi. Kaya syair lagu saja.

Sekarang, setelah sekian tahun berlalu, aku jadi mensyukuri pengalamanku itu. Aku bersyukur pernah mengenal orang beda agama yang baik, bersyukur atas keluarga yang “menjaga” aku, bersyukur bahwa aku pernah mengalami patah hati. Ya, aku katakan aku bersyukur pacarku yang beda agama itu baik karena dia tidak pernah memaksaku untuk berganti agama dan dia berpikir panjang. Dia memutuskan kami tidak melanjutkan hubungan sebelum hubungan kami berlarut-larut dan berlangsung lama. Aku bersyukur punya keluarga yang menjagaku–punya kakak yang bisa aku ajak bicara dan berdiskusi dan ayah yang teguh melarangku melanjutkan hubungan. Kini setelah menikah, aku jadi sadar bahwa menikah dengan orang yang seiman itu sangat menolong kami dalam menjalani hari-hari. Bukannya tidak menghargai perbedaan ya, tapi aku pikir menikah dengan orang yang seiman itu bisa mempermudah kami dalam diskusi, dalam memutuskan sesuatu hal, dan terlebih bisa mendukung dalam perjalanan spiritual. Selain itu, aku bersyukur mengalami patah hati karena dengan begitu aku jadi lebih berhati-hati dalam berelasi. Memperkaya hidup. Kan jadinya aku bisa cerita tentang pengalamanku ini, bukan?

Kembali ke masalah Fifi, aku jadi tergoda untuk membandingkan pengalamannya dengan pengalamanku. Kenapa akhirnya Fifi tetap memilih pacarnya yang beda agama itu sebagai pasangan hidupnya, aku kurang tahu persis. Tapi perbandingan yang aku dapat kurang lebih aku paparkan seperti berikuti ini.

1. Pasangan seiman, di mana mendapatkannya?
Sama seperti Fifi, aku dulu mendapatkan pacar yang beda agama itu dari suatu kegiatan yang melibatkan orang dari berbagai ragam agama dan suku berkumpul. Salahkah? Mencari pasangan dari kegiatan semacam itu, tidak salah seratus persen kok. Kita tetap bisa mendapatkan pasangan dari kegiatan atau tempat seperti itu. Tapi aku berpikir begini, kalau kita mau cari durian, carinya di kebun durian atau di penjual durian, bukan? Masak mau cari durian, carinya di penjual sayur? Jadi, kalau mau cari orang yang seiman, kita mesti cari di tempat orang-orang yang seiman dengan kita berkumpul. Misalnya, kita bisa ikut acara di gereja, terlibat dalam komunitas-komunitas tempat teman-teman yang seiman berkumpul. Aku rasa penting ya ada komunitas orang muda kristiani. Bukan melulu kita mau cari jodoh, tapi di situ kita bisa menguatkan dan mendukung teman-teman seiman. Seandainya Fifi ikut dalam komunitas semacam ini, kurasa dia tidak akan sampai pada keputusannya sekarang.

2. Pentingnya komunikasi yang terbuka dalam keluarga dan anggota keluarga yang saling menyayangi serta meneguhkan iman kita.
Aku merasa, salah satu hal yang membuatku untuk mencari pasangan yang seiman adalah karena keluargaku. Jelas dong aku tidak mau mengecewakan orang tuaku. Aku tahu pasti bahwa jika aku menikah dengan orang yang berbeda agama, orang tuaku pasti akan kecewa. Rasa sayang mereka begitu besar sehingga aku tidak mau egois, dong.

3. Menyadari adanya masalah sebelum berlarut-larut.
Fifi sudah pacaran selama lima tahun. Kebayang kan pacaran selama itu, pasti sudah melibatkan keterlibatan emosi yang dalam. Kita pacaran hitungan bulan saja, kurasa kalau putus, sakit hatinya juga sama. Kita bisa sama-sama mendaftar sekian ratus poin yang membuat kita hati kita berdarah-darah. Tapi, jika kita menyadari adanya masalah lebih awal dan segera mengatasinya, kita akan berjalan lebih ringan ke depannya. Ibaratnya, penyakit tidak perlu dipelihara bukan? Yang jadi masalah, kerap kali kita takut untuk mengalami sakitnya. Sesuatu untuk menjadi lebih baik kadang-kadang perlu untuk menjadi lebih buruk terlebih dahulu.

4. Jika kita terus menggenggam apa yang kita miliki saat ini, bagaimana mungkin Tuhan akan memberikan gantinya?
Kisah ini sudah berkali-kali kita dengar barangkali. Seorang anak punya sebuah kalung dari manik-manik. Dia suka sekali dengan kalung itu. Lalu, suatu kali ayahnya bertanya, “Nak, bolehkah aku minta kalungmu itu?” Si anak menggeleng. Dia tidak mau menyerahkan kalung itu kepada ayahnya. Beberapa kali ayahnya meminta kalung itu, tetapi ia tetap tidak memberikannya. Lalu suatu malam, ayahnya meminta kalung itu lagi. Karena ayahnya terus-menerus meminta, dia kemudian tidak tahan, dan memberikan kalung itu kepada sang ayah. Setelah kalung itu diberikan, ayahnya berkata, “Nah, karena kamu sudah memberikan kalung itu kepada ayah, sekarang ayah akan memberikan kalung mutiara untukmu.” Kurasa hal yang sama berlaku dalam hidup kita. Kalau kita ngeyel dengan apa yang kita pegang sekarang dan tidak berani melepaskan apa yang terus kita genggam, kita tidak akan bisa mendapatkan apa yang lebih baik. Memang dibutuhkan keberanian untuk melepas, tetapi jika kita yakin akan penyelenggaraan Tuhan, kenapa mesti takut?

5. Menjaga integritas itu penting.
Aku salut dengan orang-orang yang memilih untuk mempertahankan imannya meskipun mengalami hal sulit. Bagaimanapun, kita tidak hidup sendiri. Dan bagaimana usaha kita dalam menjaga iman tentu selain dinilai oleh Tuhan sendiri, akan dilihat oleh orang-orang di sekitar kita. Barangkali bagi sebagian orang, pencarian dan pemilihan pasangan hidup adalah salah satu hal sulit. Setiap Paskah, di gereja kami bersama-sama selalu memperbarui janji baptis. Aku kurang ingat apa saja poin-poin janji baptis itu, tetapi yang jelas di situ kita ditanya lagi apakah kita berani mempertahankan iman? Ya, namanya juga di gereja semua pasti menjawab iya bukan? Tetapi kurasa kita beriman tidak hanya di dalam gereja. Justru iman kita ditantang saat kita menjalani hidup sehari-hari–termasuk dalam memilih pasangan hidup. Kurasa implikasinya janji itu adalah kita mengandalkan pertolongan Tuhan untuk setia menjaga iman. Dan jika kita peka dan tetap mengandalkan pertolongan Tuhan, kita pasti bisa.

Mencari pasangan hidup yang seiman mungkin bagi sebagian orang penuh lika-liku, tetapi percayalah pada tangan Yesus yang senantiasa terulur untuk menolong kita. Kamu percaya itu kan?

Teman, yang Datang dan Pergi

Akhir pekan yang lalu salah seorang kawanku, L, datang ke rumah. L ini hanya salah satu dari sedikit teman dari tempat kerjaku dulu yang masih bisa kuajak bicara. Sedikit teman? Ya, memang, hanya sedikit yang sampai sekarang masih klik di hatiku. Bukannya mau membeda-bedakan teman, tetapi wajar bukan jika ada teman yang kita merasa cocok dan tidak? Sebenarnya dengan teman-teman yang dulu juga bisa dibilang tidak ada masalah. Tapi kalau mau jujur, aku merasa tidak semua bisa kuajak bicara secara dekat. Walaupun dengan L tidak dekat-dekat banget, tetapi dibanding teman-teman dari tempat kerjaku dahulu, dia bisa dibilang yang lumayan dekat.

Kadang aku tidak tahu kenapa ya bisa begitu. Dan sebenarnya aku tidak terlalu suka juga dengan hal ini. Maksudnya, bukan berarti aku tidak suka masih bisa mengobrol dengan L. Bukan, bukan begitu. Tetapi aku justru bertanya-tanya, kenapa dengan teman-teman yang lain tidak bisa seperti itu.

Misalnya dengan T atau M. Dulu seingatku, aku masih bisa ngobrol panjang lebar dengan T. Tapi belakangan tidak. Waktu awal-awal tinggal di Jakarta, aku masih suka menelepon T, tetapi kemudian hpnya rusak atau bagaimana aku kurang paham, dan akhirnya aku sulit meneleponnya. Akhirnya kami jarang berkontak. Pernah dulu aku berusaha telepon, tetapi tidak diangkat. Terakhir aku SMS, dia tidak menjawab. Entah apa SMSku tidak sampai atau bagaimana. Tapi kalau di FB kami masih suka saling berkontak, walaupun jarang sekali. Kadang aku bertanya-tanya, apakah T tidak suka jika aku lama-lama meneleponnya? (Memang aku mudah sekali berpikir bahwa jika dia tidak mengangkat teleponku, berarti dia memang tidak mau kuganggu.) Ah, aku tak mau berpikir sejauh itu. Biarlah dia sendiri yang bisa menjawabnya. Aku tak perlu menebak-nebak dan memperkeruh pikiranku sendiri. Lebih baik aku tetap menjaga pertemanan dengannya.

Kalau dengan M, menurut perasaanku, kami lebih jarang lagi berkontak. Bahkan aku kadang agak asing dengannya. Padahal dia dulu duduk sebelahan denganku. Dulu sih rasanya suka mengobrol juga waktu di kantor. Tapi aku ingat, dia dulu menceritakan relasinya dengan pacarnya bukan denganku, tetapi dengan T (dan dengan L?). Aku sih tak masalah. Setiap orang berhak memilih tempat untuk berbagi cerita bukan? Kadang kulihat dia online di YM, tapi aku merasa enggan menghubunginya. Dan dia juga tak pernah menghubungiku terlebih dahulu. Seakan-akan seperti ada tirai yang enggan kusibakkan. Entah kenapa bisa begini. Mungkin bebannya ada di pihakku saja.

Memang, kalau aku bertemu dengan L, kami kadang masih membicarakan tempat kerja kami yang dulu. Dan memang itu salah satu “materi penyambung” yang membuat kami tetap bisa bicara. Tapi tentu bukan satu-satunya ya. L masuk ke tempat kerjaku dulu cuma selisih satu tahun denganku. Jadi, lamanya kami berada di sana, kurang lebih hampir sama. Dan ada beberapa peristiwa penting yang kami lalui bersama di sana.

Bertemu teman-teman lama, baik itu kawan dari tempat kerja yang lama maupun teman sekolah, biasanya yang dibicarakan adalah kenangan. Kenangan saat satu sekolah dulu, saat di tempat kerja yang lama, tentang guru X, tentang pelajaran Y, tentang konflik dengan atasan, tentang masalah atau kejadian lucu yang sempat muncul. Tanpa ada itu, tidak akan timbul percakapan. Tak ada benang merah yang menghubungkan.

Hubunganku dengan T atau M barangkali agak luntur karena kami seakan-akan menolak membicarakan masa lalu di tempat kerja kami dulu. Setidaknya itu yang kurasakan/menurutku. Misalnya terakhir waktu aku mencoba bertanya kepada M kenapa ada–sebut saja–majalah baru yang muncul, yang sangat mirip dengan majalah yang dikeluarkan oleh tempat kerjaku dulu, dia menjawab, dia tak mau memikirkan hal itu. Hmm, ya, barangkali dia terakhir-terakhir sempat merasakan ada ganjalan-ganjalan di (bekas) kantor kami. Tapi aku tak tahu sih karena dia tak pernah cerita. Dan rasanya itu mungkin saja terjadi karena aku melihat ada banyak sekali perubahan di sana. Yang namanya perubahan, belum tentu menyenangkan semua pihak bukan? M sekarang sudah resign dan dia memulai aktivitas yang sama sekali berbeda. Aku sih ikut senang. Toh sebenarnya kami tak ada masalah. Maksudnya, tak pernah ada pertengkaran. Tak pernah ada perbedaan tajam yang membuat kami berselisih paham.

Mungkin (lagi-lagi) masalahnya ada di aku. Aku memandang ada perubahan. Dulu, waktu aku keluar dari tempat kerja dan pindah ke Jakarta, aku masih berharap bisa terus berkontak dengan teman-teman. Aku masih sesekali berharap jika mereka ke Jakarta, aku diberi kabar. Mungkin bisa bertemu barang semenit atau dua menit. Tetapi ternyata tidak. Aku awalnya yang minta supaya dikontak, dan mereka menjawab iya, tetapi kenyataannya, mereka tidak mengontakku. Tidak pernah ada ajakan untuk bertemu dan mengobrol santai. Pernah sih sekali, tetapi itu agak formal rasanya. Jadi ceritanya, mereka ke Jakarta dan menemui para outsourcer. Masing-masing diberi bingkisan. Menurutku, ini berbeda jika mereka mencuri waktu untuk bertemu dan tanpa agenda apa pun. Tak usah ada bingkisan. Tak perlu ditraktir makan. Cukuplah dengan bicara dan menyapa. Jujur saja, aku merasa sedih menyaksikan perubahan itu. Aku seperti tiba-tiba diletakkan di lingkaran terluar, padahal dulu kami toh juga sering bersama-sama. Satu ruangan, duduk bersebelahan, mengobrol ngalor ngidul. Tetapi semua itu menguap begitu saja setelah aku mengundurkan diri dari tempat kerja. Ya, mungkin mereka sibuk sekali saat berada di Jakarta. Tetapi yah, sebenarnya jarak kantor cabang tempat mereka menginap dan rumahku cukup dekat. Aku masih mau menyempatkan diri datang ke sana pagi-pagi jika mereka mau. Tetapi ya gitu, mereka tidak mengontak.

Satu hal lagi pelajaran yang kudapat setelah aku keluar dari tempat kerjaku adalah pentingnya menjaga relasi dengan para outsourcer. Dulu aku sangat jarang berkomunikasi dengan para outsourcer ini. Aku berkomunikasi hanya kalau mau memberi pekerjaan. Tapi rasanya sekarang aku berpikir, ada baiknya jika pihak pemberi kerja lebih sering menyapa para outsourcer ini. Tak perlu menunggu momen, misalnya memberikan bingkisan atau ucapan waktu hari raya. Namun, jika di waktu-waktu biasa mereka berkomunikasi, kurasa akan timbul kerja sama yang lebih baik lagi. Ini memang agak sulit mengingat komunikasi biasanya terjadi pada saat ada kepentingan. Kalau sedang tidak ada pekerjaan, apa yang mau dikomunikasikan? Tentu saja bukan melulu soal pekerjaan, hal remeh-temeh pun kurasa bisa dibicarakan. Intinya, sapalah. Para outsourcer adalah aset. Jika hubungan dengan pemberi kerja baik, maka mereka bisa memberikan kontribusi positif. Misalnya, saat bekerja, mereka bisa memberikan hasil terbaik karena mengingat relasi baik di antara mereka. Kurasa masih banyak kontribusi positif yang bisa diberikan jika

Hidup ini terus berjalan. Dan seiring berjalannya waktu, kita mengalami banyak hal, hidup kita pun terus berjalan. Dan kita tak bisa selalu menyatukan benang-benang yang dulu tersambung dengan erat. Saat kita beranjak, kita menuju ke arah yang berbeda dari teman-teman kita sebelumnya. Dan tentu akan timbul jarak bukan–entah sependek apa pun jarak itu? Kadang jarak itu bisa dijembatani dengan mudah dengan saling menyapa. Tetapi kadang tidak semudah itu. Mungkin karena keterbatasan kita juga, kita tidak bisa menyapa semua teman kita. Jadi, mestinya aku sudah selayaknya menganggap wajar pudarnya kedekatan dengan teman-teman lama. Membiarkan mereka pergi dan menemukan dunia baru, melupakan aku, melanjutkan langkah, atau hanya mengenang kebersamaan kami sepintas-sepintas saja.

Biarlah waktu yang nantinya menyaring siapa teman kita sebenarnya. Mungkin salah satunya adalah teman lama kita–mungkin juga bukan. Dan kurasa aku perlu mulai benar-benar mencari teman baru lagi. Saatnya membuka diri, mencari komunitas baru, menyapa orang-orang di sekitarku, dan menjalin relasi. Kuakui ini tidak mudah bagiku karena aku bukan orang yang dengan mudah berkawan. Tetapi ini bisa dilakukan. Dan satu lagi, tak perlu lagi aku menyimpan kepedihan-kepedihan masa lalu. Memaafkan semua yang pernah terjadi memang perlu proses, tetapi kurasa aku bisa melewatinya.

Menanggapi Sakit

Kira-kira seminggu yang lalu, aku naik bus dari sekitar jalan Proklamasi menuju jalan Diponegoro. Mumpung sedang merasa fit, jadi aku keluar rumah. Janjian nonton dengan Oni. Jenuh juga di rumah terus.

Kalau tak salah bus yang kutumpangi bernomor 67. Aku tak ingat persis. Yang aku ingat itu adalah bus produksi Jepang, warna hijau. Baru pertama kali aku naik bus itu. Aku dapat tempat duduk paling belakang.

Seperti biasa, aku mengamati keadaan sekelilingku. Berusaha tidak memikirkan apa-apa. Hanya berusaha untuk menikmati dan mensyukuri apa yang ada. Kini dan di sini. Hatiku tenang. Di depanku kulihat ada seorang ibu-ibu berkerudung dengan seorang bocah perempuan di sampingnya. Bocah ini mungkin berumur 4-5 tahun. Masih berseragam TK kalau tak salah. Ia menyanyi dan mengoceh sendirian. Di seberang, ada seorang bocah lelaki. Tampaknya mereka saling melihat. Kulihat mereka berkomunikasi, tapi tak jelas juga. Yang jelas, bocah lelaki itu memerhatikan si bocah perempuan.

Bocah perempuan itu tampak riang. Dia selalu tersenyum sembari mengoceh (atau menyanyi?). Ia tak peduli ketika bocah lelaki di seberangnya tampak bingung dengan ocehannya. Ocehannya tak jelas sama sekali. Agak bindeng. Kupikir dia flu. Tapi ternyata kusadari ia memakai alat pendengaran di telinga kirinya. Oh!

Aku tersentuh olehnya. Dia masih tampak riang. Seperti tak ada beban.

Aku bertanya-tanya, Apakah ia punya banyak teman di sekolah? Apakah teman-temannya menerima dia apa adanya? Apakah ibunya tidak menyesal melahirkan dia? Berbagai pikiran berkecamuk dalam benakku. Tetapi sungguh aku tersentuh oleh wajah riangnya. Dia seperti tidak peduli bahwa suara yang keluar dari mulutnya terdengar sumbang. Ia tetap bernyanyi. Sambil tersenyum.

Aku lalu ingat bahwa beberapa hari sebelumnya aku dan Oni menengok Popo–neneknya Oni. Popo sudah beberapa bulan terakhir ini sakit. Sakit jantung katanya. Aku tak tahu persis bagaimana kondisi dia yang sebenarnya. Hanya saja Popo memang tampak lemah dan muram. Waktu Oni datang, mereka bercakap-cakap dengan bahasa daerah mereka. Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tetapi Oni lalu bilang bahwa Popo stres karena tidak kunjung sembuh.

Ah, aku sangat maklum kalau Popo stres. Sakit memang tidak enak. Apalagi kalau harus beberapa kali ke dokter dan kondisinya juga tak membaik. Mungkin membaik sedikit, tetapi tidak bisa benar-benar pulih seperti sedia kala. Tubuhnya jadi lemah, membuatnya tak bisa beraktivitas seperti dulu. Padahal Popo sebelumnya cukup aktif. Masih memasak setiap hari. Ke pasar dengan jalan kaki. Kadang ke kebun belakang. Kadang masih kulihat ia mengepel lantai, menyapu. Sehat untuk ukuran perempuan usia 80 tahun. Namun, melihatnya kemarin membuatku sedih juga. Popo jadi jarang tersenyum.

Aku mengerti betul betapa sakit-penyakit bisa merenggut sukacita. Sakit bikin stres. Aku sendiri mengalaminya beberapa bulan belakangan ini. Penyakit lamaku kambuh. Aku mens cukup lama. Memang berhenti sendiri. Tetapi kemudian berulang lagi mens lama dalam jarak yang tak terlalu lama. Badanku tidak sakit. Juga tidak lemas. Hanya saja, mens yang lama itu membuatku cemas. Dulu pernah seperti ini, tetapi kata dokter ini penyebabnya ketidakseimbangan hormon. Jika dikasih obat memang bisa berhenti. Tetapi aku tidak ingin bergantung pada obat-obat kimiawi sebenarnya. Aku bertahan tidak ke dokter. Aku minum jamu lewat Bu Wiyono (radiestesi). Memang Bu Wiyono sempat menyarankan aku minum obat juga. Tetapi aku enggan. Aku takut.

Waktu Mbak Tutik meninggal, aku jadi makin stres. Aku akhirnya minum Primolut selama 5 hari. Memang berhenti untuk beberapa waktu. Tetapi barangkali karena aku tidak tuntas minumnya, aku mens lagi. Dan kali ini banyak sekali. Sampai aku jadi benar-benar lemas. Aku lalu baru mau ke dokter. Tapi rupanya setelah dari dokter aku malah jadi stres. Dia bilang aku bisa saja dikuret. Aduh, tambah lemes rasanya. Bukan lemes karena mens tetapi lebih karena pikiran. Pikiran jadi ke mana-mana.

Akhirnya aku pindah dokter. Dan dari proses ketemu dokter pertama dan kedua ini, aku mulai benar-benar berlatih meditasi (lagi). Awalnya aku hanya sering rosario. Kadang rosario membuatku tenang. Tetapi kalau pikiranku ke mana-mana, aku tetap saja kacau. Harusnya aku lebih khusuk dan konsentrasi. Kalau konsentrasi sebenarnya bisa lebih tenang hatiku. Tetapi di saat stres, sulit juga untuk berkonsentrasi. Pikiran benar-benar melompat ke sana kemari. Napas jadi terasa pendek-pendek. Mudah cemas. Padahal kalau cemas, hormon makin kacau. Aku bisa-bisa tak sembuh-sembuh.

Dokter yang kedua ini adalah rekomendasi dari Michelle–teman Oni. Sebelumnya kami sempat berbincang-bincang di rumah Michelle. Aku cerita soal sakitku. Juga kecemasanku. Aku tanya-tanya yoga seperti apa yang bisa membantuku. Michelle bilang kalau sedang mens dia tidak menyarankan untuk yoga. Dia bilang lebih baik aku meditasi saja.

Meditasi yang aku tahu selama ini adalah pertama, konsentrasi pada napas; yang kedua meditasi dengan pengamatan pasif. Untuk yang kedua ini aku pernah ikut retretnya Romo Sudri. Sebenarnya rosario bisa dibilang meditasi juga. Jadi aku meditasi sebisanya. Kadang rosario. Kadang meditasi pengamatan pasif. Untuk meditasi pengamatan pasif, aku lebih nyaman dengan berbaring. Untung aku sudah punya matras yoga. Jadi bisa kupakai untuk meditasi. Kalau rosario, aku lebih suka sambil duduk. Mengucapkan kata demi kata dengan perlahan dalam hati. Efeknya sama: menenangkan.

Kembali ke bocah kecil yang kutemui dalam bis tadi. Aku membandingkan keadaan kami bertiga. Bisa dikatakan kami secara fisik ada hambatan. Namun, bagaimana kami menanggapi penyakit yang ada? Kadang aku berpikir, lebih enak sakit flu. Separah-parahnya kondisi sakit flu, bisa kelihatan dengan signifikan pemulihannya. Dan berapa lama sih kita sakit flu? Mungkin tak sampai berbulan-bulan. Setelah sembuh, bisa beraktivitas seperti semula. Kalau sakit yang tak jelas dan butuh ke dokter beberapa kali, atau barangkali mungkin yang tidak bisa sembuh total, sang penderita bisa stres. Aku awalnya tak mengira bisa stres. Seperti tak berdaya. Dan aku juga tak mengira kalau Popo bisa tidak ceria seperti biasanya. Kupikir tetap bersemangat di kala sakit itu sudah sewajarnya. Maksudnya, tak perlu diupayakan. Toh nanti juga sembuh. Tapi pertanyaan “kapan sembuh?” bisa membuat stres ketika pada kenyataannya tubuh kita tidak kunjung membaik–atau tidak tampak perubahan yang signifikan.

Semangat untuk bisa sembuh. Keyakinan bahwa kita akan sembuh. Pasrah pada kehendak Ilahi. Bertekun sekaligus mengupayakan pengobatan di kala sakit. Semua itu membutuhkan kehendak yang kuat dari dalam diri sendiri. Dan aku percaya semua itu bisa kita dapatkan jika kita bisa pasrah kepada kehendak Tuhan. Pasrah bukan berarti menerima tanpa mengupayakan perbaikan, tetapi sebaliknya. Menerima dan tetap berusaha melakukan yang terbaik. Ini sulit. Karena orang-orang di sekitar kita jarang ada yang benar-benar bisa memahami hal ini. Jarang ada bisa menemani dan membantu kita tetap bersemangat. Jadi, kita sendiri perlu berjuang untuk itu.

Akhirnya, dengan sakit aku jadi meninjau ulang hidupku. Katanya, sakit itu anugerah. Karena dengan sakit aku jadi menghargai kesehatan. Berusaha untuk selalu makan yang sehat, setidaknya berusaha untuk memperbanyak porsi buah dan sayur. Mengurangi makan makanan yang memakai pengawet dan sejenisnya. Olahraga. Berdoa. Meditasi. Berpikir “kini dan di sini.” Berusaha untuk menikmati setiap berkat yang ada. Sekali lagi, ini tidak mudah. Kadang aku masih harus berusaha keras untuk itu. Tetapi ada satu hal yang kurasakan berubah adalah bahwa dengan meditasi (pengamatan pasif) aku jadi lebih tenang dan aku merasa bahwa meditasi ini merupakan kebutuhan. Bukan lagi sebuah kewajiban. Meditasi bagiku seperti doa hening. Membiarkan tangan Tuhan menyentuh hatiku. Tanpa kata-kata. Kubiarkan Dia menyentuhku dan mengasihiku.

Doa Pagi Ini

Tuhan, hari ini aku ingin berjalan bersama-Mu.
Genggamlah tanganku.
Kiranya ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, kegetiran memudar saat Kau pegang tanganku.

Tuhan, aku ingin bergembira di dalam Engkau.
Aku ingin bersyukur atas apa yang terjadi.
Segala sakit dan perkara yang selama ini membayangiku, aku serahkan semua ke dalam tangan-Mu.

Biarlah Engkau saja yang memegang tanganku.
Aku ingin bersukacita atas pekerjaan yang Engkau percayakan kepadaku.

Tuhan, aku hendak bersyukur dan bersukacita karena Engkau ada.
Karena Engkau lebih besar dari segala persoalan yang ada di dunia ini.
Karena Engkau adalah Tuhan.

Tuhan, genggam tanganku. Peganglah aku. Tuntunlah aku.

Doa dan Kesaksian Sederhana yang Menguatkan

Aku tak pernah melupakan kejadian hari itu.

Pagi itu aku harus ke Slipi. Perjalanan ke sana dari rumahku memakan waktu 1,5 jam. Itu jika jalanan tak terlalu macet. Tetapi aku merasa agak kurang fit saat itu. Malam sebelumnya aku batuk dan sulit tidur. Batuk masih kurasakan sampai pagi. Aku memutuskan minum obat batuk sebelum berangkat. Masih ada cukup waktu untuk tidur sejenak sebelum berangkat. Obat batuk memang membuat mataku jadi berat.

Aku tidur kira-kira satu jam lalu terbangun dengan sedikit enggan karena rasanya badanku masih berat. Rasanya aku ingin di rumah saja. Tetapi aku sudah janji untuk menemui seseorang di Slipi. Ah, masak hanya karena sedikit batuk aku jadi manja begini sih? Aku teringat pernyataan bahwa jika kita keras terhadap diri kita, hidup akan menjadi lebih lunak. Entah benar atau tidak, yang jelas aku tak ingin menjadikan kantuk dan batuk menjadi alasan untuk tidak berangkat.

Untuk menuju Slipi total aku harus berganti kendaraan umum empat kali. Di dua kendaraan umum pertama, aku masih mendapat tempat duduk. Di kendaraan umum ketiga, bus sudah penuh. Biarlah, pikirku. Kalau aku tak segera naik bus itu, aku bisa terlambat. Benar, aku harus berdiri. Bus besar itu tak menyisakan tempat duduk buatku. Rasanya berdiri di bus dalam keadaan masih mengantuk terasa berat saat itu. Apalagi perjalanan masih jauh. Namun, aku memberanikan diri berdoa dalam hati, “Tuhan, aku ingin mendapat tempat duduk. Beri aku satu bangku untuk duduk.” Aku merasa, agak berlebihan jika doaku terkabul. Bus ini terus menaikkan penumpang, dan trayek tempuhnya masih jauh. Rasanya tak akan ada penumpang yang turun dalam waktu dekat.

Bus baru menempuh sepertiga dari trayeknya. “Proklamasi! Proklamasi!” Ibu yang duduk di bangku terdekatku turun! Aku mendadak terharu ketika tersadar bahwa doaku terkabul. Aku duduk menggantikan ibu tersebut. Aku bersyukur sekali Tuhan mendengar doa sederhanaku itu. Bahkan ketika aku merasa tak yakin, Tuhan masih memberi perhatian. Terima kasih Tuhan.

Belum lama aku duduk, tak lama naiklah sepasang pengamen.
“Jreng … jreng … jreng”
Sejauh timur dari barat
Kau membuang dosaku
Tiada Kauperhitungkan kesalahanku ….

Aku tertegun. Entah aku mesti merespons bagaimana. Baru saja Tuhan menghadiahiku tempat duduk di dalam bus yang mulai sesak dengan penumpang, sekarang para pengamen itu menyanyikan lagu rohani. Seolah lagu itu meyakinkanku bahwa Tuhan memang hadir dan menemani.

Lagu itu mengingatkan aku saat aku masih bekerja di sebuah penerbitan buku rohani. Setiap pagi kami berkumpul, melakukan renungan pagi bersama. Dan itu adalah salah satu lagu yang sering kami nyanyikan. Namun kali ini yang menyanyi bukan aku bersama teman-teman seruanganku, melainkan dua pengamen bersuara ala kadarnya.

Orang mungkin bisa mengatakan bahwa lagu itu tak cocok dinyanyikan di dalam bus kota. Tetapi toh, aku merasa lagu itu menghiburku. Mengingatkanku sekali lagi bahwa kasih karunia Allah begitu besar. Dia telah menebus aku–dan juga orang-orang di dalam bus kota ini jika mereka mengimani Kristus. Yesus telah menyelesaikan urusanku dengan Tuhan. Dosaku sudah dihapus. Hidup baru telah diberikan. Dan Dia juga masih menyediakan hal yang kubutuhkan, meski itu terbilang sepele di mata-Nya.

Nyanyian para pengamen itu juga mengingatkan aku untuk berani memberikan kesaksian. Mungkin kesaksian dalam bentuk lagu itu tampak ala kadarnya, tetapi toh lagu itu memberikan dampak tersendiri bagiku. Memberikan penguatan bahwa Allah tetap berkarya dan menemani meski di tempat serta suasana yang tampaknya sangat duniawi. Aku pikir, kita masing-masing bisa memberikan kesaksian mengenai penyertaan Tuhan. Jika itu bukan untuk menjangkau orang yang belum mengenal kasih karunia Allah, setidaknya bisa menguatkan sesama kaum beriman.

Aku berdoa kiranya lewat tulisan yang sederhana ini, nama Tuhan senantiasa dimuliakan. Dan kiranya kita juga ingat bahwa Allah senantiasa menyertai bahkan di saat maupun di tempat yang tampaknya Allah tak hadir di situ.

Syukur atas Air

Tuhan,

aku selalu takjub melihat tetes-tetes air. dan air itu pula yang menyegarkanku ketika aku haus. ketika aku mandi.

Apa yang terlintas di benak-Mu ketika Kau menciptakannya?

Untuk membuat kami, manusia yang bodoh ini, merasa senang dan gembira?

Anyway, terima kasih ya Tuhan atas air.

Aku selalu kagum melihat tetes-tetesnya :)